STROKE

 Rif'ah Aulia

NIM: P17120123088Menurut laporan Center For Disease Control Amerika Serikat yang dikutip Carissa (2021) ada satu orang meninggal karena stroke setiap empat menit. Jika membandingkan hasil kajian Riset Kesehatan Dasar 2018 dengan hasil kajian 2013, prevalensi korban stroke meningkat dari 7% menjadi 10,9%. Hasil Riskesdas menunjukan bahwa prevalensi stroke di Indonesia meningkat dari 7 kasus per 1.000 orang pada tahun 2013 menjadi 10,9 kasus per 1.000 orang pada tahun 2018 (Pratiwi et al., 2024). Stroke paling banyak terjadi pada lansia yakni 45,3% dari mereka yang berusia 65-70 tahun dan 50,2% dari mereka yang berusia 75 tahun atau lebih (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2018 dalam (Abdu et al., 2022). Data Wold Stroke Organization menunjukan bahwa setiap tahunnya adalah 13,7% juta kasus baru stroke dan sekitar 5,5 juta kematian terjadi akibat penyakit stroke. Sekitar 70% penyakit stroke dan 87% kematian dan disabilitas akibat stroke terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah, lebih dari empat dekade terakhir kejadian stroke pada negara berpendapatan rendah dan menengah meningkat lebih dari dua kali lipat (Kemenkes RI, 2018 dalam (Agus et al., 2021).

Definisi Stroke 

Stroke adalah kondisi pecah atau tersumbatnya pembuluh darah yang berada di dalam otak dan menyebabkan bagian otak tidak dapat memperoleh nutrisi dan oksigen yang dibutuhkan, sehingga otak yang tersumbat  tidak berfungsi (American Stroke Association, 2023 dalam (Afifah et al., 2024)). Menurut WHO, stroke adalah gangguan fungsi saraf yang terjadi secara mendadak selama lebih dari 24 jam (atau kurang dari 24 jam apabila pasien meninggal atau dilakukan tindakan pembedahan) akibat dari gangguan pada aliran darah ke otak (Rohadi et al., 2023).

Tanda Gejala Stroke

Stroke adalah kondisi pecah atau tersumbatnya pembuluh darah yang berada di dalam otak dan menyebabkan bagian otak tidak dapat memperoleh nutrisi dan oksigen yang dibutuhkan, sehingga otak yang tersumbat  tidak berfungsi (American Stroke Association, 2023 dalam (Afifah et al., 2024)). Menurut WHO, stroke adalah gangguan fungsi saraf yang terjadi secara mendadak selama lebih dari 24 jam (atau kurang dari 24 jam apabila pasien meninggal atau dilakukan tindakan pembedahan) akibat dari gangguan pada aliran darah ke otak (Rohadi et al., 2023).

Faktor Risiko Stroke

Faktor risiko stroke dibagi menjadi dua yakni faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan yang tidak dapat dimodifikasi. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi adalah usia, jenis kelamin, dan ras. Sedangkan faktor risiko yang dapat dimodifikasi adalah hipertensi, penyakit jantung, diabetes melitus, hiperkolesterolemia, merokok, konsumsi alkohol, obesitas, dan rendahnya aktivitas fisik. Aktivitas fisik merupakan salah satu dari 10 faktor risiko di dunia, aktivitas fisik yang rendah menyumbangkan 2% terjadinya kejadian stroke di dunia.

Jenis kelamin merupakan salah satu faktor risiko stroke yang tidak dapat dimodifikasi. Pada kanak-kanak dan dewasa muda, angka kejadian strok lebih tinggi pada laki-laki. Namun, pada usia dewasa insidensi stroke pada perempuan meningkat dan lebih tinggi daripada laki-laki. Hal ini disebabkan oleh penggunaan obat kontrasepsi oral, kehamilan, menopause, dan penggunaan terapi sulih hormon (Surbakti & Komara, 2024).

Diet Pasien Stroke

Diet stroke adalah jumlah makan yang dibutuhkan sesuai dengan kondisi klinis pasien dan memiliki manfaat untuk memperbaiki keadaan pasien tertentu.

Adapun bahan makanan yang dianjurkan dan tidak dianjurkan pada diet stroke II sebagai berikut (Nilawati & Sapnita, 2023):

Bahan Makanan

Dianjurkan

Tidak Dianjurkan

Sumber karbohidrat

Beras, ketan ubi, singkong, terigu, hunkwe, tapioka, sagu, gula, madu.

Produk olahan yang dibuat dengan garam dapur atau baking powder seperti kue-kue yang terlalu manis dan gurih.

Sumber protein hewani

Daging sapi dan ayam tak berlemak, ikan, telur ayam, susu skim.

Daging sapi dan ayam berlemak, jeroan, otak, hati, ikan banyak duri, keju, es krim, dan produk olahan protein hewani yang diawet seperti daging asap, ham, bacon, dendeng, dan kornet.

Sumber protein nabati

Semua kacang-kacangan dan produk olahan yang dibuat dengan garam dapur, dalam jumlah terbatas.

Semua produk olahan kacan yang diawetkan dengan garam natrium atau digoreng.

Sayuran

Sayuran berserat sedang dimasak seperti bayam, kangkung, kacang panjang, labu siam, tomat, tauge, dan wortel.

Sayuran yang menimbulkan gas seperti sawi, kol, kembang kol, lobak, sayuran berserat tinggi seperti daun singkong, daun katuk, daun melinjo, daun pare, sayuran mentah.

Buah

Buah segar dibuat jus atau disetup seperti pisang, pepaya, jeruk, mangga, nanas, dan jambu biji (tanpa bahan pengawet).

Buah yang menimbulkan gas seperti nangka dan durian, buah yang diawet dengan natrium seperti buah kaleng dan asinan, jus kemasan.

Lemak

Minyak jagung dan minyak kedelai, margarin yang digunakan untuk menumis atau setup, santa encer.

Minyak kelapa dan minyak kelapa sawit, margarin dan mentega biasa, santan kental, krim dan produk gorengan.

Minuman

Teh, kopi, cokelat, dalam jumlah terbatas dan encer.

Coklat, kopi, dan teh kental.

Bumbu-bumbu

Bumbu yang tidak tajam seperti garam (terbatas), gula, bawang merah, bawang putih, jahe, laos, kayu manis, dan pala, bumbu kemasan

Bumbu yang tajam seperti cabe, merica dan cuka, yang mengandung bahan pengawet garam natrium seperti kecap, kaldu ayam kemasan, terasi, petisvetsin, soda, dan baking powder.

Cara mengatur diet (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2020):

1.     Gunakanlah minyak kedelai, minyak sawit, minyak kacang tanah atau minyak jagung dalam jumlah terbatas (1 sendok makan/hari).

2.     Penggunaan daging merah maksimal 2x seminggu.

3.     Makanlah ikan sebagai pengganti daging.

4.     Batasi penggunaan kuning telur maksimal 2x seminggu.

5.     Makan banyak sayur dan buah-buahan segar.

6.     Memasak dengan merebus, mengukus, mengungkep, menumis, memanggang atau bakar.

7.     Bila disertai dengan darah tinggi dan atau penyakit jantung diberikan pula diet rendah garam.

8.     Hati-hati dengan minuman atau suplemen berenergi (lebih baik konsultasi dengan dokter).

Berikut adalah contoh menu sehari dengan diet pada pasien pasca stroke (Hutagalung, 2021):

 

 

 

 

 

Waktu dan Bahan Makanan

Berat (gr)

Ukuran Rumah Tangga

Pagi

Nasi

Telur ayam rebus

Tempe orek

Sayuran kuah

Minyak jagung

Susu skim bubuk

 

75

50

25

50

10

300 (ml)

 

1 gelas nasi

1 butir

1 potong sedang

½ gelas

1 sdm

1 gelas

 

Siang

Nasi

Ikan pepes

Tempe

Sayuran

Pepaya

Minyak jagung

 

100

50

50

50

100

10

 

1 ½ gelas

1 potong sedang

2 potong sedang

1 gelas

1 potong sedang

1 sdm

Pukul 16.00

Susu skim bubuk

 

300 (ml)

 

1 gelas

Malam

Nasi

Ikan

Tempe

Sayuran

Pepaya

Minyak jagung

 

75

50

25

50

100

15

 

1 gelas nasi

1 potong sedang

1 potong sedang

½ gelas

1 potong sedang

1 ½ sdm

Komplikasi Stroke

Komplikasi yang dapat terjadi pada pasien stroke adalah komplikasi jantung, pneumonia atau paru-paru basah, demam, nyeri pasca stroke, inkontinensia atau tidak bisa menahan buang air, luka akibat tekanan, penyusutan otot, dan depresi (Isrofah et al., 2023). Jika pasien stroke tidak dapat menjaga pola makan, dapat menyebabkan terkena hipertensi, penyakit jantung, gagal ginjal dan menyebabkan terjadinya stroke berulang.


DAFTAR PUSTAKA

Abdu, S., Satti, Y. C., Payung, F., & Soputan, H. A. (2022). Analisis Kualitas Hidup Pasien Pasca Stroke Berdasarkan Karakteristik. Jurnal Keperawatan Florence Nightingale, 5(2), 50–59. https://doi.org/10.52774/jkfn.v5i2.107

Afifah, N. R., Darliana, D., & Bahri, T. S. (2024). Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Stroke Iskemik: Stusi Kasus. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, 6(4), 1627–1638.

Agus, I., Arif, Y., & Gusti, R. P. (2021). Pengaruh Program Edukasi Terintegrasi Terhadap Perilaku Pasien Pasca Stroke. Human Care, 6(3), 685–697.

Hutagalung, M. S. (2021). Makna Hidup Bagi Penderita Stroke dan Pentingnya Diet Stroke untuk Menunjang Proses Penyembuhan: Panduan Lengkap Stroke. Nusamedia. https://books.google.co.id/books?id=vKNsEAAAQBAJ

Isrofah, I., Wulandari, I. D., Nugroho, S. T., Martyastuti, N. E., & Daryaswanti, P. I. (2023). Pengelolaan Pasien Pasca Strke Berbasis Home Care. PT. Sonpedia Publishing Indonesia. https://books.google.co.id/books?id=snrpEAAAQBAJ

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Diet Penyakit Stroke.

Mangalik, G., Laurensia, A. R., & Ariestiningsih, A. D. (2023). Diet Management with Dysphagia Condition in Stroke Patients: A Literature Review. Amerta Nutrition, 7(3), 468–477. https://doi.org/10.20473/amnt.v7i3.2023.468-477

Nilawati, S., & Sapnita. (2023). Buku Ajar Gizi dan Diet (E. D. Widyawaty (ed.); 1st ed.). Rena Cipta Mandiri. https://books.google.co.id/books?id=1tvSEAAAQBAJ

Oktarina, Y., Nurhusna, N., Kamariyah, K., & Mulyani, S. (2021). Edukasi Kesehatan Penyakit Stroke Pada Lansia. Medical Dedication (Medic) : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat FKIK UNJA, 3(2), 106–109. https://doi.org/10.22437/medicaldedication.v3i2.11220

Pratiwi, L., Ambarsari, A., Annarahayu, L., Nawangsari, H., Jona, R. N., & Sulistyaningrum, D. P. (2024). Kesehatan Wanita Indonesia. CV Jejak (Jejak Publisher). https://books.google.co.id/books?id=fOwCEQAAQBAJ

Rohadi, Priyanto, B., Wardhana, D. P. W., & Wahyudi. (2023). Dasar-Dasar Ilmu Bedah Saraf. Penerbit Salemba. https://books.google.co.id/books?id=85PYEAAAQBAJ

Surbakti, R. B., & Komara, N. K. (2024). Peran Aktivitas Fisik Pada Stroke (A. W. Saputra (ed.)). PT.Scifintech Andrew Wijaya. https://books.google.co.id/books?id=vVIREQAAQBAJ

Komentar